Kartini, What an amazing Woman…*_*!!!!

Kartini, tokoh yang kerap sekali dikaitkan dengan perjuangan emansipasi wanita di Indonesia.
Sayangnya apa yang pernah diperjuangkan oleh Beliau sepertinya tak selalu sejalan dengan pejuang emansipasi masa kini, makna emansipasi semakin meluas dan abstrak.
Yaah..setiap orang punya persepsi sendiri terhadap arti emansipasi..
Banyak hal yang dengan mudahnya diatasnamakan emansipasi dan penghargaan atas perjuangan Kartini, padahal belum tentu tujuan dan cara pandangnya sesuai dengan cita2 Kartini yang sebenarnya.
Kalau seperti ini, sepertinya bukan hanya “Ibu Pertiwi” yang akan menangis, tetapi Ibu Kartini-pun akan sangat kecewa seandainya Beliau menyaksikan berbagai fenomena yang ada.

Tuntutan persamaan hak (emansipasi) sebenarnya tidak dikenal dalam Islam, Islam tidak pernah mempertentangkan hak pria dan wanita. Istilah2 seperti itu hanya ada di luar islam, khususnya di Barat (Amerika-Eropa). Ajaran Islam pada hakekatnya memberikan perhatian yang sangat besar dan kedudukan terhormat kepada wanita, perbedaan yang dijadikan ukuran untuk meninggikan dan merendahkan derajat hanyalah nilai pengabdian dan ketaqwaannya kepada ALLAH SWT (Q.S. Al-Hujarat :13)
di luar itu semua, emansipasi atau yang dikenal juga sebagai persamaan gender sebenarnya tidak ada salahnya. Asalkan tidak melanggar kodrat dan fungsi sebagai wanita..
Dalam Islam, wanita yang baik adalah wanita yang dapat menjalankan kehidupannya seoptimal mungkin berdasarkan Alquran dan Hadis. mampu menyelaraskan fungsi, hak, dan kewajibannya sebagai seorang hamba ALLAH, seorang istri, dan seorang Ibu.

Salah satu hal yang belum begitu diekspose dalam kehidupan Kartini adalah nilai2 keagamaannya, diluar sepengetahuan banyak orang sebenarnya Kartini adalah sosok yang religius dan taat menjalankan ajaran Islam. Di tengah lingkungan yang penuh tantangan dan bujuk-rayu, serta di tengah dinamika keremajaan yang kritis, Belau tetap teguh dan selamat membawa identitas keislamannya.

“Dan saya menjawab, tidak ada Tuhan kecuali Allah. Kami mengatakan bahwa kami beriman kepada Allah dan kami tetap beriman kepada-Nya. Kami ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya tentulah kami sudah memuja orang dan bukan Allah.” (Surat Kartini kepada Nyonya Abendanon, 12 Oktober 1902)

“Yakinlah Nyonya, kami akan tetap memeluk agama kami yang sekarang ini. Serta dengan Nyonya kami berharap, moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama kami (Islam), patut disukai.” (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902)

Kartini, sungguh banyak kebaikan yang dapat kita ambil dari tinta sejarah hidupnya..
dan sungguh bijak apabila kita bisa meneladani cita2nya, dengan tidak terbata2..:)

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, BUKAN SEKALI-SEKALI KARENA KAMI MENGINGINKAN ANAK-ANAK PEREMPUAN ITU MENJADI SAINGAN LAKI-LAKI DALAM PERJUANGAN HIDUPNYA. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam (sunnatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” (Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902)

Kartini, What an amazing Woman…*_*!!!

9 Tanggapan to “Kartini, What an amazing Woman…*_*!!!!”

  1. Wong Gendeng Says:

    Saya pikir perempuan sekarang sudah banyak melampaui batas. Sebenarnya Kartini bukanlah simbol utama emansipasi Indonesia. bangsa indonesia (yang cewek) sebenarnya mereka lebih banyak mengadopt gaya2 emansipasi dari luar negeri khususnya amerika. namun mereka menjadikan kartini sebagai simbol saja. biar tidak terkesan bahwa bilai2 yang mereka anut berasal dari amerika.. Salam Buat mbak Winda Hayu Pratiwi yang kini tambah cantik

    • Winda Hayu P. Says:

      WlkmussalamWrWb..:)
      Makasih ya..
      maaf, ini siapa? kok ga pke nama asli aja?
      biar lebih enak silaturrahimnya..:)

      • Assalamualaikum Wr. Wb,,, mohon maaf saya bahkan belum mengucapkan salam sebelumnya,, nama saya adrian, mbak,, mohon maaf jika anda kurang berkenan sebelumnya

    • AlaikassalamWrWb..
      Terima kasih Mas Adrian,
      Salam kenal..:)

      • Mbak winda bagaimana pendapat Anda mengenai banyak perempuan yg rela meninggalkan keluarganya selama 8 jam untuk bekerja setiap harinya,, padahal sang suami masih sangat mampu untuk memberikan nafkah kepada sang istri. Ketika sang istri ditanya,, ia menjawab, ini adalah aktualisasi diri karena saya telah kuliah sarjana,,, anaknya hanya dititipkan kepada seorang pembantu rumah tangga, pulang2 sudah capek, dan bahkan untuk menyambut suaminya pun masih kurang. Ini adalah gejala emansipasi. Pertanyaan saya adalah :

        Apakah wanita tersebut memang boleh bekerja hanya karena suaminya mengizinkannya????

        Apakah si wanita tersebut tidak punya naluri sebagai seorang ibu untuk merawat anak2nya daripada harus berangkat kantor jam 8 – 16??? toh pdahal segala kebutuhan sudah dicukupi si suami,,

        Jika anda menjawab pertanyaan kedua dg jawaban : wanita harus berada di rumah untuk merawat anak,,, maka sekarang saya tanya untuk apa seorang wanita harus kuliah,, terutama di jurusan teknik (yg lebih maskulin),, Apa faedahnya kuliah teknik bagi perempuan???????????

        Mohon maaf mbak winda apabila ada yg kurang berkenan,,, salam

  2. Makasih Mas Adrian, Sebelumnya mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan.
    Begini Mas Adrian, saya tidak bisa men-judge wanita yang memilih jalan hidup seperti itu dengan pandangan yang begini dan begitu. Setau saya sampai saat ini belum pernah ditentukan batasan2 yang jelas mengenai emansipasi , jadi segalanya masih abu2, masih berdasarkan persepsi masing2 individu. Kalau bagi saya, sesuai yang saya tulis di atas, itu bagi saya. Belum tentu seperti itu menurut pandangan orang lain. Kalaupun ada wanita yang kondisinya seperti Mas sebutkan di atas, mungkin ada banyak pertimbangan sehingga dia mengambil peran lebih sebagai wanita dan bahkan (maaf) sampai keluarganya terlantar.
    Apabila dihadapkan dengan banyak pilihan, saya akan berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarga saya (kalaupun akan menyebabkan keluarga saya sedikit terlantar, saya berharap itu adalah pilihan yang paling terakhir). Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada hidup kita nanti.

    Tentu saja akan lebih banyak manfaat yang diperoleh jika seorang wanita kuliah. Wanita nantinya akan menjadi seorang ibu, dan Ibu adalah pendidik pertama dan yang paling dekat dalam kehidupan anak. Seorang ibu yang mendidik anaknya dengan pengetahuan alakadarnya (just let it flow and grow) tentu saja akan memberikan hasil berbeda bila dibandingkan dengan seorang ibu yang mendidik anaknya dengan kesadaran tinggi sebagai seorang Ibu & pendidik, berwawasan luas, motivasi tinggi, dan rencana2 visioner.

    Untuk masalah jurusan teknik atau apa, menurut saya itu bukan suatu masalah besar yang bisa menghalangi seorang wanita menjalani kodrat sebagai wanita dengan baik. Setiap orang punya ketertarikan yang berbeda2 trhadap segala sesuatu, dan untuk menjadi seorang Ibu yang baik tidak harus dengan mengambil jurusan sebagai guru. Saya sangat menghargai seorang wanita yang bercita2 tinggi dan berkarir tetapi sekaligus bisa menjadi istri dan ibu yang sangat baik di rumah. Saya juga sangat kagum pada wanita yg mengenyam pendidikan tinggi (misal sampai S2), tetapi dengan ikhlas mendedikasikan diri sepenuhnya pada keluarga di rumah. Ilmu itu tidak akan pernah sia-sia, dapat disalurkan/diwujudkan dalam bentuk apapun.

    Pemahaman datang di waktu yang berbeda2 pada setiap orang, ketika seorang wanita memahami kewajiban2 yang di atur dalam agamanya sesuai kodratnya dan mau menjalankannya dengan ikhlas, saya sangat yakin segala keputusan dan langkah yang diambil nantinya akan berorientasi ke sana. Entah basicnya dari disiplin ilmu apapun atau keadaan apapun.

    Mohon maaf Mas Adrian, apakah kita pernah kenal sebelumnya?

  3. Sas W. Hamzah Says:

    Iyo win, kita sudah kenal,,, mohon maaf sebesar2nya sebelumnya karena saya sengaja tidak memakai nama sebenarnya karena saya ingin mendapat jawaban, karena saya pikir kalau pakai nama sebenarnya itu akan mengurangi independensi/keleluasaan jawaban yg kamu berikan. Ok, saya sudah mendapat jawabannya,, karena itu yg sering ditanya banyak orang, Saya mohon maaf sebesar2nya bila ada kata2 yang kurang berkenan. Terima kasih ya. Wassalamualaikum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: