Untuk Matahariku

Posted in Tak Berkategori on 10 Februari 2017 by Winda Hayu Pratiwi

Assalamualaika Shalihku 🙂 ,

Bagaimana kabar Mas hari ini? Kerjaan lancar?

Padahal baru tadi pagi kita ketemu ya,, sarapan bersama, peluk cium, dan doa2 yang mengiringi hilangnya punggungmu dari pandanganku.

Manis dan Indah

Dan aku mulai merindukanmu sepanjang hari, menunggu waktu sore sampai kita bertemu lagi.

Begitu setiap hari

 

 

Tahukah Kau Mas Imamku,

Tiada pernah aku tidak bersyukur Allah takdirkanku mendampingi hidupmu, di dunia. Dan semoga sampai surgaNya, seperti mimpi kita.

Tentang kita.. hmm..

Tiba2 jadi keingat pertama kali aku menyadari kehadiranmu Mas, awal kelas 3 SMA.

Waktu itu aku ga sadar kalau kita sekelas.

Jam istirahat menuju pelajaran Agama Islam, seperti biasa kelas sepi karena semua anak ke kantin/main basket/ngobrol2 di luar. Hanya aku sendiri di kelas karena hari itu Senin, atau mungkin Kamis, aku lupa tepatnya.

Tapi lama2 aku sadar bahwa ada kamu juga di situ, tidur berbaring di antara meja2 kelas. Aku pikir Mas anak kelas sebelumnya, yg tertinggal di kelas karena ketiduran (Mas ingatkaan, kalau waktu itu sekolah kita pakai sistem moving class..). Dalam hati,”Kasihan banget anak itu ditinggal teman2nya”.

Ketika pelajaran dimulai, eh Mas masih aja di situ.. bahkan ikut pelajaran yg sama denganku, di kelasku.

Fix kita sekelas ternyata, hahaha

Dan selanjutnya kita berteman, akrab juga dengan teman2 yg baik dan saling mengingatkan dalam kebaikan (mungkin didukung juga dengan momok UAS yaa..)

Tapi sejak awal kamu memang spesial Mas,, hatimu bersih dan tulus (aku bingung bagaimana menjelaskan poin ini), apa adanya, dan semangat beribadahmu itu.. sungguh tak biasa untuk anak2 seumuran kita.

Waktu itu aku merasa beruntung sekali punya teman seperti Mas (hanya teman, waktu itu nggak ada pikiran aneh2, takpernah terpikirkan mungkin aja kita nanti berjodoh ).

Kemudian kita dan teman2 saling berpencar, begitu juga kita. Mas kuliah di Bandung, dan aku di Surabaya.

Menjalani pernikahan denganmu selama lebih dr 2th ini, semakin hari semakin aku sadari bahwa aku begitu beruntung. Allah begitu baik menjodohkanku denganmu

Kau tidak berubah Mas, tetap spesial seperti dulu. Bahkan berlipat2

Memperhatikan caramu mencitai Rabb mu sejak hari pertama menjadi istrimu, memotivasiku untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Terima kasih, telah membuatku jauh lebih baik dengan keteladan2mu.

 

 

Dear Lelaki yang menjaga shalat tepat waktu di masjid,

Terima kasih telah menghadirkan cinta setiap hari di rumah kita. Aku bahagia.

Terima kasih telah merelakan pundak dan punggungmu untuk bertanggung jawab sepenuhnya menopang kehidupan kita, sejak aku memutuskan resign beberapa bulan lalu.

Terima kasih untuk mendengarkan dan mendukung mimpi2ku, meredakan ambisi2ku, bersabar menghadapi aku yang perfeksionis dan tidak sabaran ini.

Terima kasih Mas tak pernah segan membantuku dalam mengurus rumah tanpa diminta, di tengah kesibukan dan keletihan Mas setelah bekerja.

 

 

Tahukah Kau sayangku?

Sebenarnya aku ini wanita Mandiri, dari kecil aku terbiasa melakukan banyak hal sendiri. Bahkan aku menyukai tantangan dan hal2 baru. Harga diriku tinggi, aku tidak suka merepotkan orang lain.

Maafkan aku sering meminta tolong padamu ini itu, hal2 kecil yg sebenarnya bisa kulakukan sendiri.

Bukan karena aku tidak bisa, aku hanya suka saja melakukannya.

Dan hanya denganmu aku seperti ini, Kau memang spesial Mas.

Dan kau tidak pernah segan membantuku, permintaan serius/kekanak2an, apapun itu sebisamu.

I LOVE YOU

 

 

Tak terasa ya Mas, 2 bulan lagi kita akan naik kelas menjadi Ayah-Bunda.

Yuk Mas kita mempersiapkan diri, menjadi teladan dan pendidik terbaik untuk anak2 kita.

Aku ingin kita menjadi keluarga pembelajar Mas, membuka diri untuk berbagai ilmu baru.

Semoga Allah memudahkan jalan kita untuk menuntut ilmu setinggi2nya dan bermanfaat seluas2nya di manapun kita berada. Aamiin

 

 

Dear si Ganteng Shalihku,

Semoga Allah selalu mengindahkan Ahlakmu seperti Dia mengindahkan wajahmu :p

Mari terus tumbuh bersama, memantaskan diri untuk keberkahan2 yang akan Allah karuniakan kepada keluarga kita. Insyaa Allah

Doakan aku agar selalu bisa menguatkanmu, membersamaimu dalam susah dan senang.

Jangan pernah jatuh, ada aku yang menemanimu dan mengiringi langkahmu.

Selalu ada doa untukmu Mas

Aku bangga menjadi istrimu ❤

 

 

Jakarta,

10 Februari 2017

Iklan

NHW #2: Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga

Posted in Tak Berkategori on 3 Februari 2017 by Winda Hayu Pratiwi

Nice Home Work #2 :

Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga

 

Ibu Profesional.. terdiri dari 2 kata, Ibu dan Profesional

Menurut KBBI,

IBU = 1. Perempuan yang telah melairkan seseorang; 2. Sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami; 3. Panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami atau belum; 4. Bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): — jari; 5. Yang itama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: — negeri; — kota

PROFESIONAL = 1. Bersangkutan dengan profesi; 2. Memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya: ia seorang juru masak –;

 

Berdasarkan makna 2 kata tersebut, maka IBU PROFESIONAL adalah perempuan yang :

  1. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak2nya
  2. Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu agar bisa bersungguh2 mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik

 

MasyaAllah,, maka urusan menjadi Ibu itu bukan perkara main2 ya.. bukan “hanya” mengalir menjalani kodrat sebagai wanita, ada tanggung jawab besar dibalik peran itu.

Sebuah amanah mencetak generasi, mencetak peradaban. Dan untuk menjadi profesional tentunya ada usaha2 yang harus dilakukan, ilmu2 baru yang harus direngkuh

 

Membuat checklist indikator Ibu Profesional untuk saya, benar2 tidak mudah. Saya menyadari begitu jauh kapasitas diri saya sekarang untuk menuju ke sana, apalagi saya belum benar2 merasakan terjun langsung sebagai seorang ibu. Tetapi suatu pencapaian besar selalu dimulai dari hal kecil bukan ? Maka saya mencoba membuat indikator untuk diri saya, dimulai dari hal2 yg sederhana dengan target yang terukur. Semoga yg sederhana ini bisa istiqomah dijalankan dan menjadi kebiasaan, kemudian berkembang menjadi hal yang lebih besar dan lebih baik lagi.

 

Bismillah,

~ Target Ibu Profesional ~

SEBAGAI INDIVIDU

  1. Shalat wajib tepat waktu (max. 30 menit setelah adzan)
  2. Memperbanyak Ibadah Sunnah
  • Dzikir pagi dan petang (min. 1x sehari)
  • Shalat dhuha dan witir setiap hari
  • Istiqomah shaum senin dan kamis
  • Tilawah setiap hari (min one day one juz)
  1. Menjaga kesehatan
  • Olahraga min 4x seminggu
  • Menjaga asupan gizi (sayur dan buah setiap hari, meminimalkan vitsin dan makanan berpengawet)
  1. Memperluas wawasan
  • Membaca buku (1 buku/1 atau 2 bulan)
  • Mengikuti kajian/kuliah online/offline (min. 1x /minggu)
  1. Bermanfaat untuk masyarakat (aktif di min. 1 lembaga/komunitas sosial)

 

SEBAGAI ISTRI

  1. Menjaga adab dalam berkomunikasi dengan suami

(bertutur lembut, tabayyun sebelum prasangka)

  1. Menghormati dan menghargai suami
  • Mengucapkan terima kasih untuk setiap pemberian dan bantuan suami
  • Menggunakan kata “tolong”
  • Sering memuji suami untuk pencapaian/ usahanya
  • Tidak segan meminta maaf duluan pada suami
  1. Menjadi sahabat baik yang menyenangkan untuk suami

(Suami lebih terbuka dan leluasa menceritakan banyak hal : kegiatan di kantor, keluarga, hal yang disukai/tidak, perasaannya, dll)

  1. Memberi semangat dan dukungan positif untuk suami

(Suami merasa nyaman menceritakan uneg2/masalahnya, dan tidak segan meminta masukan)

  1. Menjadi partner belajar suami

(Saling memberikan info mengenai ilmu2/wawasan baru, dan mendiskusikannya bersama)

  1. Menyenangkan pandangan suami

(berpenampilan rapi dan bersih di depan suami)

  1. Belajar resep2 kue/masakan baru untuk suami (min 1x /bulan)
  2. Menjaga kesehatan suami
  • Mengajak suami olahraga min. 2x/minggu
  • Menjaga asupan gizi suami (menyediakan makanan bergizi-sayur dan buah- setiap hari, meminimalkan asupan vitsin dan bahan pengawet)

 

SEBAGAI IBU

  1. Memberikan ASI eksklusif dan MPASI sampai usia 2 th
  2. Mengoptimalkan asupan gizi dan hal2 yang diperlukan untuk tumbuh kembang anak

(tumbuh kembang anak sesuai dengan indikator usianya)

  1. Membiasakan anak cinta membaca

(membacakan buku untuk anak setiap hari)

  1. Membiasakan anak cinta Al Quran

(Membaca Al Quran bersama anak setiap hari)

  1. Memberi teladan yang baik dalam bersikap dan berempati

(Anak lebih sabar, lembut dalam bertutur, terbiasa menggunakan kata tolong, maaf, dan terima kasih)

  1. Mengajari anak Mandiri

(Membagi tugas bertahap kepada anak sesuai usianya, misal : mulai belajar membereskan buku/mainannya sendiri pada usia 3th)

  1. Mengupdate pengetahuan dan wawasan mengenai pola pengasuhan dan kesehatan

(Bersama suami membaca dan aktif mengikuti kuliah/diskusi mengenai parenting/kesehatan baik online maupun offline)

 

 

 

Jakarta, 3 Februari 2017

Nice Home Work 1 [Adab Menuntut Ilmu]

Posted in Tak Berkategori on 25 Januari 2017 by Winda Hayu Pratiwi

Bismillah..

  1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di Universitas kehidupan ini

Pendidikan Ibu

Semasa kuliah dulu, saya sempat bertanya2 kenapa di Indonesia ini Kuliah2/kelas tentang pendidikan ibu kurang diperhatikan [mungkin saya saja yang kurang wawasan saat itu]. Saya belum pernah mendengar adanya himbauan2/tindakan formal dari pemerintah yang memfasilitasi pendidikan khusus Ibu, padahal Ibu sebagai pendidik pertama memiliki peran sangat besar bagi peradaban dan SDM yang dihasilkan nantinya. Beruntung sekali saat ini ketika saya akan menjadi seorang ibu, saya dipertemukan Allah dengan kelas IIP yang pastinya akan saya ikuti sebaik mungkin [dalam hati, ‘ini yang saya cari selama ini’]. Saya juga baru menyadari bahwa begitu banyak orang hebat di negara ini yang peduli dengan pendidikan para ibu.

2. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut

Sejak resign dari pekerjaan saya 6 bulan lalu, saya memutuskan ingin belajar menjadi istri dan ibu terbaik yang saya bisa. Karena anak adalah peniru ulung, maka saya ingin memantaskan diri untuk ditiru anak2 saya nanti. Saya membutuhkan anak2 saya untuk saya didik sebaik2nya karena segala sesuatunya nanti akan dimintai pertanggungjawaban olehNYA. Saya berharap pendidikan ibu yang saya miliki nanti juga akan membentuk saya menjadi istri yang semakin baik, dan saya dapat menularkan manfaatnya ke masyarakat.

3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut

Membuka diri untuk mau belajar seluas2nya, mengikuti kelas2 seperti IIP, banyak membaca, mengikuti forum2 yang relevan dengan pendidikan ibu

4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut

Lebih fokus dalam menekuni ilmu yang dipelajari. Menerapkan adab2 menuntut ilmu yang selama ini sering saya sepelekan [berwudhu dan berniat sungguh2 dalam belajar, menghargai dan menghormati sumber2 ilmu, dll]. Lebih rendah hati dalam proses menerima ilmu2 yang baru. Berdoa, memohon kemudahan dan keberkahan Ilmu, karena sejatinya segala Ilmu berasal dari Allah SWT.

 

Jakarta, 25 Januari 2017

Winda Hayu P.

 

 

 

Teman Hidup

Posted in Drizzle Drizzle.. on 25 Agustus 2014 by Winda Hayu Pratiwi

19 Syawal 1435 H

Merdu kudengar hafalan Surat Ar Rahman yang ia lantunkan untukku, sesaat setelah akad pernikahan kami
Alhamdulillah.. terima kasih Allah, untuk hadiah yang begitu istimewa 🙂

Dengannya, ingin kuraih selalu cintaMU

Bersamanya, semoga hidup ini semakin berkah

DSC_1265

Garis tangan tergambar, tak bisa aku menentang
Sujud syukur padaMU, atas segala cinta..
-Melly Goeslaw, Ketika Cinta Bertasbih-

Terima kasih, telah memilihku sebagai “Teman”
Teman Hidup 🙂

Jika Istrimu Seorang Ibu Rumah Tangga

Posted in Drizzle Drizzle.. on 24 Agustus 2014 by Winda Hayu Pratiwi

Taken from “CeritaJikaProject” kurniawangunadi

 

Bukankah setiap istri adalah seorang ibu rumah tangga?

Ibu rumah tangga, ialah ia yang membersihkan tangga yang akan kamu lalui setiap harinya, menuntun kamu dan anak-anakmu untuk melewati setiap anak tangga, ialah ia yang hanya  tersenyum paling bahagia saat kamu dan anak-anakmu mencapai tangga paling puncak, ialah ia yang akan selalu siap menyambutmu ketika kamu jatuh terguling ke anak tangga paling bawah, ialah ia, Ibu Rumah Tangga.

Jika istrimu seorang ibu rumah tangga, kamu harus tahu bahwa bukan hal yang mudah baginya untuk melepas segala pencapaian yang telah dimilikinya.  Akan ada saat dimana orang-orang di sekitarnya menyayangkan keputusannya, Kedua orang tua yang merasa sia-sia telah memberikannya pendidikan yang tinggi, Orang-orang terdekat yang terlanjur memiliki ekspektasi tinggi untuknya. Hai lelaki yang telah membuat seorang wanita ber ”masa depan” cerah melepas karir dunianya hanya untuk merawat dan melayani kebutuhanmu dan anak-anakmu. Maukah kamu menutup telinga dari segala perkataan tak menyenangkan orang-orang. Maukah kamu melapangkan dadamu untuk ia bersandar. Maukah kamu merendahkan bahumu untuk ia meletakkan kepala. Maukah kamu merentangkan kedua tangan untuk memeluk ia, yang lusuh dan lelah mengurus segala keperluanmu yang terlihat sepele??

Jika istrimu seorang ibu rumah tangga, menunggumu di rumah dengan rasa bosan yang sesekali muncul, rasa rindu pada dunia karir yang cemerlang, merasa terpanggil menyajikan bahan presentasi dan dikagumi orang-orang, maukah kamu. Menemaninya dengan perhatian yang cukup membuat ia tersenyum simpul setiap pagi. Menghargai setiap tindakannya dengan ucapan terima kasih yang tulus. Memberikan senyum termanis dan tawa yang membuatnya lupa bahwa ia selalu terkurung di rumah. Menemaninya melihat dunia yang tidak pernah sempat ia lakukan?

Jika istrimu seorang ibu rumah tangga, mungkin ia tak kan punya cukup waktu untuk melihat perkembangan dunia luar, tidak akan punya cukup waktu untuk menjadi modis seperti teman-temanmu diluar sana, tapi pernahkah kamu tahu?

Ibu rumah tangga, ialah ia yang menjatuhkan dirinya agar kamu terlihat lebih tinggi.

Ialah ia yang menekan egonya demi menghargai kamu sebagai kepalanya.

Ialah ia yang berpura-pura bodoh agar kamu tampak hebat.

Ialah ia yang mencemaskan kamu selagi kamu pulang telat karna bersenang-senang bersama kawan-kawan kerjamu.

Ialah ia yang akan selalu mendengarkan setiap keluh kesahmu.

Ialah ia yang rela menjadi pelampiasan emosimu agar emosimu tetap terkontrol pada orang lain.

Ialah ia yang rela membiarkan dirinya dipandang sebelah mata namun meradang saat kamu disepelekan.

Dear lelaki, menjadi ibu rumah tangga tidak pernah mudah. Bukankah lebih mudah membayar gaji seorang baby sister dan seorang asisten rumah tangga untuk mengurusi segalanya?? Tapi bukankah lebih membahagiakan jika kita bisa berkasih sayang dengan cara yang menurut banyak orang tidak mudah? Cukup temani saja ia, ajarkan saja ia untuk menjadi tempatmu kembali, beri tahu ia bagaimana caranya membuatmu nyaman, bimbing ia untuk melengkapimu.

Free :)

Posted in Tak Berkategori on 7 Juni 2014 by Winda Hayu Pratiwi

“Seberapa penting arti dari melepaskan sesuatu yang memang bukan ditakdirkan untukmu?

Kurasa, sepenting kau ingin hatimu merasa lega dan bahagia.”

I

I

I

Percayalah, memang tidak semua orang bisa kau jaga perasaannya.

Tidak bisa dan sebenarnya juga tidak perlu.

(Tia Setiawati Pakualam, via karenapuisiituindah)

Saatnya..

Posted in Drizzle Drizzle.. on 1 Maret 2014 by Winda Hayu Pratiwi

AssalamualaikumWrWb..

Lama sekali rasanya tidak berceloteh di sini. Sejak laptop saya (Baca: Komar) sakit2an, jadi ga ada feel ketik2 ga jelas lg ^^. Alhamdulillah si Komar skrg sudah sembuh permanen, InsyAllah..

Hmm… Umur memang ga bias menipu ya?! Setiap orang tanpa disadari harus menjalani fase2 dalam hidupnya seiring dengan bertambahnya umur. Dan saya di sini sekarang semakin dekat “untuk menjadi lengkap”.
(jadi senyum2 sendiri :p)

Awal Februari lalu telah datang bersilaturrahim kepada orang tua saya, seorang pria yg sangat baik bersama keluarganya untuk mengajukan diri sebagai imam saya, Alhamdulillah 🙂
Timingnya begitu sesuai dengan rencana hidup yang saya buat untuk diri saya sejak SMA, menjadi lengkap di umur 24th. Semoga dia memang pilihan terbaik dari Allah untuk menyempurnakan setengah agama saya yang memang masih sangat standar di sana sini, jadi penyempurnanya nanti kudu lebih ekstra (hehehe.. yang sabar yaa..:D)

Bersabarlah, kelak akan datang juga,
sendirian atau bersama-sama keluarganya:
seseorang yang dengan penuh kerinduan akan kau panggil sebagai “jodoh”
(Fahd Djibran, Perjalanan Rasa, 2013, hlm. 188)

 

 

 

Alhamdulillah.. Allah memang selalu tepat waktu
dan dia datang tepat waktu 🙂

 

 

*Paiton, March 1st 2014
di sore hari